My heroes never wore tights or appeared on carton channels
They had long beards and kept clothes above the ankles
No combing the streets, like beasts at night looking for thieves
My heroes fought their egos, and narrated ahadith
And some of my heroes were once bag guys too
Baby killers and highway robbers, if you only knew what they knew
Cause you gotta know a lie in order to recognize the truth
And what the point of knowing truth if you can’t back it up with proof
And to prove my heroes were united by a single point of view
Why else would they choose to go against what their fathers used to do?
Unless they knew, that paradise was worth being abused
The best of views, if only you could walk a mile in their shoes,
Oh what I wouldn’t do to kick it with Abduallah Ibn Musuud,
Listen to him recite the Quran, sad to go into ruku
Yeah that would be cool, but me and Hamza, we would kick it old school
Joke about the Jahilliya, silly things they used to do
If I could pick my own crew, Salman Al Farsi would have to be in it,
An honest seeker of truth, may Allah bless his spirit,
Have Tea with Julilibib, Coffee with Anas Ibn Malik
Anything to pick their brains and gain a better understanding
Could you imagine taking a class with Abduallah Ibn Abbas
A scholar by the age of 10, just a boy amongst the men
And if I had one friend, it would be Abu Baker as Saddique,
Someone to hold you down and to really represent,
When Sumayya held her chin to her killers, did she think?
We would name our little girls after her to teach them strength
And who cares about these rappers, we got Hassan Ibn Thabit,
Dude was sick with the flow, can’t believe you didn’t know,
That Zaid was a slave who became one of praise
Lived the American dream, when America was Cree
Umar Bin Khattab was G, held it down for this deen
A real superman, made the devils cross the street
And if I ever had beef, I would call up Khalid Bin Walid
He was a ride or die homie, amongst the Salaf as Saliheen,
And if I close my eyes, man, I could almost see
Bilal amongst the cold morning breeze, Allahu Akbar
Cause surely salah is much better than sleep
Like Abu Sufyan after he embraced the deen
On this earth Talha, was a walking shaheed
And Jafar gave his life for our Ummahs victory
May Allah be pleased and grant them all the highest levels of heaven
Like Uthman ibn Affan, who even the angles were shy in front of
Aisha was a genius, ever word was like a thesis
Mother to all believers, pure like that of Isa’s
Khadija held the fetus of Fatima, who was the teacher
Of Hassan and Hussein, sons of Ali who were slain
Man you gotta know these names, cause these people paved the way
It’s a shame, we know more about them monkeys on BET
This is our history, all the sacrifices that they made for me
Gave to me, a legacy that I could be proud to keep
Said: Be! It was decreed, that at Badr we were only 300 deep
But with the angels on our side, who could even compete?
Although he was a man of peace who preached speech before the sword
He raged a war against error, the worship of fake Lords
Came to restore the deen that Ibrahim laid before
Extreme in his need to feed miskeen and the poor
Yeah, he was hardcore with his face to the floor
Off praying so long that his feet became sore
Uhhhh, yeah he got down like that
And told all the rich they should pay the zakat
And make the salah, and spread the salaam
And declare Ashdu-la-ilah, Ha-il-allah,
Muhammed a rasooul Allah, Sallau alahe wsalaam,
Was the difference between Jannah and Jahennim,
Like the mailman just delivering a message
Who else do you know with a swagger that’s blessed?
The best and perfected, corrected the method
Madina state of mind, coming from the hood of Mecca
Champion companions, homeboys were go-getters
Did it bigger and better, had followers before twitter
The leader of leaders, amir to believers
Enjoined all the good and forbade all the evil
My hero taught people that we were all equal
The best of examples outlined what is legal
Forever I’m grateful for all that he came for
May blessings and peace always reach to my mentor
My teacher, my brother, my hero, my prophet
Muhammed, Sallau alahe wsalaam
And that’s how it goes, so tell everyone you know
That this party don’t stop till the son of Mary come home
I am pleased with my Lord and Islam as my deen,
May we die on these words, Allahuma, ameen

K-Pop Fever – Subhanallah

I accidentally clicked on this K-Pop video.
Subhanallah. Alhamdulillah. Allahuakbar.
A step closer to Allah, Allah will more more more closer to you.

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيمِ

وَالسَّمَاء وَالطَّارِقِ
Demi langit dan “At-Taariq”; –
By the heaven and the Morning Star

وَمَا أَدْرَاكَ مَا الطَّارِقُ
Dan apa jalannya engkau dapat mengetahui apa dia “At-Taariq” itu? –
Ah , what will tell thee what the Morning Star is!

النَّجْمُ الثَّاقِبُ
(At-Taariq) ialah bintang yang menembusi (sinaran cahayanya);
The piercing Star!

إِن كُلُّ نَفْسٍ لَّمَّا عَلَيْهَا حَافِظٌ
Tiada sesuatu diri juapun melainkan ada malaikat yang menjaga (keadaannya serta menyimpan catitan mengenai segala bawaannya).
No human soul but hath a guardian over it .

فَلْيَنظُرِ الْإِنسَانُ مِمَّ خُلِقَ
(Setelah mengetahui yang demikian), maka hendaklah manusia memikirkan: dari apa ia diciptakan.
So let man consider from what he is created .

خُلِقَ مِن مَّاء دَافِقٍ
Ia diciptakan dari air (mani) yang memancut (ke dalam rahim) –
He is created from a gushing fluid

يَخْرُجُ مِن بَيْنِ الصُّلْبِ وَالتَّرَائِبِ
Yang keluar dari “tulang sulbi” lelaki dan “tulang dada” perempuan.
That issued from between the loins and ribs .

إِنَّهُ عَلَى رَجْعِهِ لَقَادِرٌ
Sesungguhnya Allah Maha Kuasa untuk mengembalikannya (hidup semula sesudah mati),
Lo! He verily is Able to return him ( unto life )

يَوْمَ تُبْلَى السَّرَائِرُ
Pada hari didedahkan segala yang terpendam di hati (dari iktiqad, niat, dan lain-lainnya),
On the day when hidden thoughts shall be searched out .

فَمَا لَهُ مِن قُوَّةٍ وَلَا نَاصِرٍ
Maka (pada saat itu) tidak ada bagi manusia sebarang kekuatan (untuk membela diri), dan tidak ada penolong (yang dapat memberikan pertolongan).
Then will he have no might nor any helper .

وَالسَّمَاء ذَاتِ الرَّجْعِ
Demi langit yang berulang-ulang mencurahkan hujan,
By the heaven which giveth the returning rain ,

وَالْأَرْضِ ذَاتِ الصَّدْعِ
Dan bumi yang merekah mengeluarkan tumbuh-tumbuhan,
And the earth which splitteth ( with the growth of and plants )

إِنَّهُ لَقَوْلٌ فَصْلٌ
Sesungguhnya keterangan Al-Quran adalah kata-kata pemutus (yang sebenar),
Lo! this ( Quran ) is a conclusive word ,

وَمَا هُوَ بِالْهَزْلِ
Dan bukanlah ia kata-kata yang olok-olok.
It is no pleasantry .

إِنَّهُمْ يَكِيدُونَ كَيْداً
Sesungguhnya mereka (yang menentangmu, wahai Muhammad) bermati-mati menjalankan rancangan jahat,
Lo! they plot a plot ( against thee , O Muhammad )

وَأَكِيدُ كَيْداً
Dan Aku pula tetap bertindak membalas rancangan jahat (mereka, dan menggagalkannya).
And I plot a plot ( against them ) .

فَمَهِّلِ الْكَافِرِينَ أَمْهِلْهُمْ رُوَيْداً
Oleh itu janganlah engkau hendakkan segera kebinasaan orang-orang kafir itu, berilah tempoh kepada mereka sedikit masa.
So give a respite to the disbelievers . Deal thou gently with them for a while .


عَنْ أَبِي أُمَامَةَ , قَالَ : إِنَّ فَتًى شَابًّا أَتَى النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ : يَا رَسُولَ اللَّهِ , ائْذَنْ لِي بِالزِّنَا , فَأَقْبَلَ الْقَوْمُ عَلَيْهِ , فَزَجَرُوهُ , قَالُوا : مَهْ مَهْ , فَقَالَ : ” ادْنُهْ ” , فَدَنَا مِنْهُ قَرِيبًا , قَالَ : فَجَلَسَ

Daripada Abi Umamah telah berkata:
Sesungguhnya seorang pemuda datang kepada Nabi s.a.w, seraya berkata:
“Ya Rasulallah, izin aku untuk berzina”

Maka orang ramai pun berpaling kepadanya sambil menahannya, dan mereka berkata:
“Jangan..jangan (Berhentilah kamu daripada berkata sebegitu)”,

Maka Rasulullah s.a.w bersabda:
“Bawakan dia dekat denganku”.

Maka pemuda itu telah mendekati Baginda s.a.w.

(Abu Umamah) berkata: maka (pemuda itu) telah duduk (dekat dengan Rasulullah s.a.w).

قَالَ : ” أَتُحِبُّهُ لِأُمِّكَ ؟ ” , قَالَ : لَا وَاللَّهِ , جَعَلَنِي اللَّهُ فِدَاءَكَ , قَالَ : ” وَلَا النَّاسُ يُحِبُّونَهُ لِأُمَّهَاتِهِمْ “

Rasulullah s.a.w mula bersabda:
“Adakah kamu suka itu (perbuatan zina) terjadi kepada ibumu?”

Lantas pemuda itu menjawab:
“Demi Allah, tidak! (Aku lebih sanggup) Allah jadikan aku tebusan (kematianku) bagimu!”

Rasulullah s.a.w menyambung:
“(Begitulah juga halnya) orang ramai tidak suka hal itu (terjadi) kepada ibu-ibu mereka”

قَالَ : ” أَفَتُحِبُّهُ لِابْنَتِكَ ؟ ” , قَالَ : لَا وَاللَّهِ يَا رَسُولَ اللَّهِ , جَعَلَنِي اللَّهُ فِدَاءَكَ , قَالَ : ” وَلَا النَّاسُ يُحِبُّونَهُ لِبَنَاتِهِمْ
Rasulullah s.a.w bersabda lagi:
“Adakah kamu suka itu (perbuatan zina) terjadi kepada anak perempuanmu?”

Lantas pemuda itu menjawab:
“Demi Allah, tidak! (Aku lebih sanggup) Allah jadikan aku tebusan (kematianku) bagimu!”

Rasulullah s.a.w menyambung:
“(Begitulah juga halnya) orang ramai tidak suka hal itu (terjadi) kepada anak-anak perempuan mereka”.

قَالَ : أَفَتُحِبُّهُ لِأُخْتِكَ ؟ ” , قَالَ : لَا وَاللَّهِ , جَعَلَنِي اللَّهُ فِدَاءَكَ , قَالَ : ” وَلَا النَّاسُ يُحِبُّونَهُ لِأَخَوَاتِهِمْ
Rasulullah s.a.w bersabda lagi:
“Adakah kamu suka itu (perbuatan zina) terjadi kepada saudara perempuanmu?”

Lantas pemuda itu menjawab:
“Demi Allah, tidak! (Aku lebih sanggup) Allah jadikan aku tebusan (kematianku) bagimu!”

Rasulullah s.a.w menyambung:
“(Begitulah juga halnya) orang ramai tidak suka hal itu (terjadi) kepada saudara-saudara perempuan mereka”.

قَال : أَفَتُحِبُّهُ لِعَمَّتِكَ ؟ ” , قَالَ : لَا وَاللَّهِ , جَعَلَنِي اللَّهُ فِدَاءَكَ , قَالَ : ” وَلَا النَّاسُ يُحِبُّونَهُ لِعَمَّاتِهِمْ
Rasulullah s.a.w bersabda lagi:
“Adakah kamu suka itu (perbuatan zina) terjadi kepada emak saudaramu (sebelah ayah)?”

Lantas pemuda itu menjawab:
“Demi Allah, tidak! (Aku lebih sanggup) Allah jadikan aku tebusan (kematianku) bagimu!”

Rasulullah s.a.w menyambung:
“(Begitulah juga halnya) orang ramai tidak suka hal itu (terjadi) kepada emak-emak saudara (sebelah ayah) mereka”.

قَالَ : أَفَتُحِبُّهُ لِخَالَتِكَ ؟ ” , قَالَ : لَا وَاللَّهِ , جَعَلَنِي اللَّهُ فِدَاءَكَ , قَالَ : ” وَلَا النَّاسُ يُحِبُّونَهُ لِخَالَاتِهِمْ
Rasulullah s.a.w bersabda lagi:
“Adakah kamu suka itu (perbuatan zina) terjadi kepada emak saudaramu (sebelah ibu)?”

Lantas pemuda itu menjawab:
“Demi Allah, tidak! (Aku lebih sanggup) Allah jadikan aku tebusan (kematianku) bagimu!”

Rasulullah s.a.w menyambung:
“(Begitulah juga halnya) orang ramai tidak suka hal itu (terjadi) kepada emak-emak saudara (sebelah ibu) mereka”.

قَالَ : فَوَضَعَ يَدَهُ عَلَيْهِ , وَقَالَ : ” اللَّهُمَّ اغْفِرْ ذَنْبَهُ , وَطَهِّرْ قَلْبَهُ , وَحَصِّنْ فَرْجَهُ ”
Abu Umamah berkata: Maka Rasulullah s.a.w meletakkan tangannya di atas pemuda itu, lalu berdoa:

اللَّهُمَّ اغْفِرْ ذَنْبَهُ , وَطَهِّرْ قَلْبَهُ , وَحَصِّنْ فَرْجَهُ
“Ya Allah ampunkanlah dosanya, bersihkanlah/sucikanlah hatinya, dan bentengilah kemaluannya”

, فَلَمْ يَكُنْ بَعْدُ ذَلِكَ الْفَتَى يَلْتَفِتُ إِلَى شَيْءٍ
Selepas itu, pemuda itu tidak lagi memandang sesuatu (yang berbentuk maksiat)

[Musnad Imam Ahmad: 21629, Shaikh Muq’bil al-Wadi’e menyatakan ia hadis sahih. Lihat as-Sahih al-Musnad]

Uwais Al-Qarni, Menjadi Sebutan Penduduk Langit

Pada zaman Nabi Muhammad S.A.W, ada seorang pemuda bermata biru, rambutnya merah, pundaknya lapang panjang, berpenampilan cukup tampan.

Kulitnya kemerah-merahan. Dagunya menempel di dada kerana selalu melihat pada tempat sujudnya. Tangan kanannya menumpang pada tangan kirinya.

Ahli membaca al-Quran dan selalu menangis, pakaiannya hanya dua helai dan sudah kusut yang satu untuk penutup badan dan yang satunya digunakannya sebagai selendang. Tiada orang yang menghiraukan, tidak terkenal dalam kalangan manusia,namun sangat terkenal di antara penduduk langit.

Tatkala datangnya hari Kiamat, dan tatkala semua ahli ibadah diseru untuk memasuki Syurga, dia justeru dipanggil agar berhenti dahulu seketika dan disuruh memberi syafa’atnya.

Ternyata Allah memberi izin padanya untuk memberi syafa’at bagi sejumlah bilangan qabilah Robi’ah dan qabilah Mudhor, semua dimasukkan ke Syurga dan tiada seorang pun ketinggalan dengan izin-Nya.

Dia adalah ‘Uwais al-Qarni’ siapalah dia pada mata manusia…

Tidak banyak yang mengenalnya, apatah lagi mengambil tahu akan hidupnya. Banyak suara-suara yang mentertawakan dirinya, mengolok-olok dan mempermainkan hatinya.

Tidak kurang juga yang menuduhnya sebagai seorang yang membujuk, seorang pencuri serta berbagai macam umpatan demi umpatan, celaan demi celaan daripada manusia.

Suatu ketika, seorang fuqoha’ negeri Kuffah, datang dan ingin duduk bersamanya. Orang itu memberinya dua helai pakaian sebagai hadiah. Namun, hadiah pakaian tadi tidak diterima lalu dikembalikan semula kepadanya. Uwais berkata:

“Aku khuatir, nanti orang akan menuduh aku, dari mana aku mendapatkan pakaian itu? Kalau tidak daripada membujuk pasti daripada mencuri.”

Uwais telah lama menjadi yatim. Beliau tidak mempunyai sanak saudara, kecuali hanya ibunya yang telah tua renta dan lumpuh tubuh badannya. Hanya penglihatan kabur yang masih tersisa.

Bagi menampung kehidupannya sehari-hari, Uwais bekerja sebagai pengembala kambing. Upah yang diterimanya hanya cukup-cukup untuk menampung keperluan hariannya bersama ibunya. Apabila ada wang berlebihan, Uwais menggunakannya bagi membantu tetangganya yang hidup miskin dan serba kekurangan.

Kesibukannya sebagai pengembala dan merawat ibunya yang lumpuh dan buta, tidak mempengaruhi kegigihan ibadahnya. Dia tetap melakukan puasa di siang hari dan bermunajat di malam harinya.

Uwais al-Qarni telah memeluk Islam ketika seruan Nabi Muhammad S.A.W tiba ke negeri Yaman. Seruan Rasulullah telah mengetuk pintu hati mereka untuk menyembah Allah, Tuhan Yang Maha Esa, yang tidak ada sekutu bagi-Nya.

Islam mendidik setiap pemeluknya agar berakhlak luhur. Peraturan-peraturan yang terdapat di dalamnya menarik hati Uwais. Apabila seruan Islam datang di negeri Yaman, ia segera memeluknya, kerana selama ini hati Uwais selalu merindukan datangnya kebenaran.

Banyak tetangganya yang telah memeluk Islam, pergi ke Madinah untuk mendengarkan ajaran Nabi Muhammad S.A.W secara langsung. Sekembalinya di Yaman, mereka memperbaharui rumah tangga mereka dengan cara kehidupan Islam.

Alangkah sedihnya hati Uwais apabila melihat setiap tetangganya yang baru datang dari Madinah. Mereka itu telah bertamu dan bertemu dengan kekasih Allah penghulu para Nabi, sedang dia sendiri belum berkesempatan.

Kecintaannya kepada Rasulullah menumbuhkan kerinduan yang kuat untuk bertemu dengan sang kekasih. Namun apakan daya, dia tidak punya bekal yang cukup untuk ke Madinah. Lebih dia beratkan adalah ibunya yang sedang sakit dan perlu dirawat. Siapa yang akan merawat ibunya sepanjang ketiadaannya nanti?

Diceritakan ketika terjadi perang Uhud Rasulullah S.A.W mendapat cedera dan giginya patah kerana dilempari batu oleh musuh-musuhnya. Khabar ini sampai ke pengetahuan Uwais.

Dia segera memukul giginya dengan batu hingga patah. Hal tersebut dilakukan sebagai bukti kecintaannya kepada Rasulullah, sekalipun ia belum pernah melihatnya.

Hari berganti dan musim berlalu, dan kerinduan yang tidak terbendung dan hasrat untuk bertemu tidak dapat dipendam lagi. Uwais merenungkan diri dan bertanya dalam hati, “Bilakah ia dapat menziarahi Nabinya dan memandang wajah beliau dengan dekat?”

Bukankah dia mempunyai ibu yang sangat memerlukan perhatian daripadanya dan tidak sanggup meninggalkan ibunya sendiri. Hatinya selalu gelisah siang dan malam menahan kerinduan untuk berjumpa Rasulullah.

Akhirnya, pada suatu hari Uwais mendekati ibunya. Dia meluahkan isi hatinya dan memohon izin kepada ibunya agar diperkenankan untuk pergi menziarahi Nabi S.A.W di Madinah.

Sang ibu, walaupun telah uzur, merasa terharu ketika mendengar permohonan anaknya. Beliau amat faham hati nurani anaknya, Uwais dan berkata,

“Pergilah wahai anakku! Temuilah Nabi di rumahnya. Apabila telah berjumpa, segeralah engkau kembali pulang.”

Dengan rasa gembira dia berkemas untuk berangkat. Dia tidak lupa untuk menyiapkan keperluan ibunya yang akan ditinggalkan serta berpesan kepada tetangganya agar dapat menemani ibunya selama mana dia pergi.

Sesudah siap segala persediaan, Uwais mencium sang ibu. Maka berangkatlah Uwais menuju Madinah yang berjarak lebih kurang empat ratus kilometer dari Yaman.

Medan yang begitu panas dilaluinya. Dia tidak peduli penyamun gurun pasir, bukit yang curam, gurun pasir yang luas yang dapat menyesatkan dan begitu panas di siang hari, serta begitu dingin di malam hari. Semuanya dilalui demi bertemu dan dapat memandang sepuas-puasnya paras baginda Nabi S.A.W yang selama ini dirinduinya.

Tibalah Uwais al-Qarni di kota Madinah. Segera ia menuju ke rumah Nabi S.A.W, diketuknya pintu rumah itu sambil mengucapkan salam. Keluarlah sayyidatina ‘Aisyah R.A sambil menjawab salam Uwais.

Segera sahaja Uwais menanyakan Nabi yang ingin dijumpainya. Namun ternyata baginda tidak berada di rumah melainkan berada di medan perang. Betapa kecewa hati sang perindu, dari jauh ingin berjumpa tetapi yang dirindukannya tidak berada di rumah. Dalam hatinya bergolak perasaan ingin menunggu kedatangan Nabi S.A.W dari medan perang.

Bilakah beliau pulang? Sedangkan masih terngiang di telinga pesan ibunya yang sudah tua dan sakit-sakitan itu, agar ia cepat pulang ke Yaman.

“Engkau harus lekas pulang.”

Atas ketaatan kepada ibunya, pesan ibunya tersebut telah mengalahkan suara hati dan kemahuannya untuk menunggu dan berjumpa dengan Nabi S.A.W.

Dia akhirnya dengan terpaksa memohon untuk pulang semula kepada sayyidatina ‘Aisyah R.A ke negerinya. Dia hanya menitipkan salamnya untuk Nabi S.A.W dan melangkah pulang dengan hati yang pilu.

Sepulangnya dari medan perang, Nabi S.A.W langsung menanyakan tentang kedatangan orang yang mencarinya. Nabi Muhammad S.A.W menjelaskan bahawa Uwais al-Qarni adalah anak yang taat kepada ibunya. Ia adalah penghuni langit dan sangat terkenal di langit.

Mendengar perkataan baginda Rasulullah S.A.W, sayyidatina ‘Aisyah R.A dan para sahabatnya terpegun.

Menurut sayyidatina ‘Aisyah R.A memang benar ada yang mencari Nabi S.A.W dan segera pulang kembali ke Yaman, kerana ibunya sudah tua dan sakit-sakitan sehingga ia tidak dapat meninggalkan ibunya terlalu lama.

Rasulullah S.A.W bersabda: “Kalau kalian ingin berjumpa dengan dia (Uwais al-Qarni), perhatikanlah, ia mempunyai tanda putih di tengah-tengah telapak tangannya.”

Sesudah itu Rasulullah S.A.W, memandang kepada sayyidina Ali K.W dan sayyidina Umar R.A dan bersabda:

“Suatu ketika, apabila kalian bertemu dengan dia, mintalah doa dan istighfarnya, dia adalah penghuni langit dan bukan penghuni bumi.”

Tahun terus berjalan, dan tidak lama kemudian Nabi S.A.W wafat, hinggalah sampai waktu khalifah Sayyidina Abu Bakar as-Shiddiq R.A telah digantikan dengan Khalifah Umar R.A.

Suatu ketika, khalifah Umar teringat akan sabda Nabi S.A.W tentang Uwais al-Qarni, sang penghuni langit. Beliau segera mengingatkan kepada sayyidina Ali K.W untuk mencarinya bersama.

Sejak itu, setiap ada kafilah yang datang dari Yaman, mereka berdua selalu bertanya tentang Uwais al-Qarni, apakah ia turut bersama mereka. Di antara kafilah-kafilah itu ada yang merasa hairan, apakah sebenarnya yang terjadi sampai ia dicari oleh beliau berdua.

Rombongan kafilah dari Yaman menuju Syam silih berganti, membawa barang dagangan mereka. Suatu ketika, Uwais al-Qarni turut bersama rombongan kafilah menuju kota Madinah.

Melihat ada rombongan kafilah yang datang dari Yaman, segera khalifah Umar R.A dan sayyidina Ali K.W mendatangi mereka dan menanyakan apakah Uwais turut bersama mereka.

Rombongan itu mengatakan bahawa ia ada bersama mereka dan sedang menjaga unta-unta mereka di perbatasan kota. Mendengar jawapan itu, beliau berdua bergegas pergi menemui Uwais al-Qarni.

Sesampainya di khemah tempat Uwais berada, Khalifah Umar R.A dan sayyidina Ali K.W memberi salam. Namun rupanya Uwais sedang melaksanakan solat. Setelah mengakhiri solatnya, Uwais menjawab salam kedua tamu agung tersebut sambil bersalaman.

Sewaktu berjabat tangan, Khalifah Umar segera membalikkan tangan Uwais, untuk membuktikan kebenaran tanda putih yang berada di telapak tangan Uwais, sebagaimana pernah disabdakan oleh baginda Nabi S.A.W.

Memang benar! Dia penghuni langit. Dan ditanya Uwais oleh kedua tamu tersebut,

“Siapakah nama saudara?”

“Abdullah.” Jawab Uwais.

Mendengar jawapan itu, kedua sahabat pun tertawa dan mengatakan,

“Kami juga Abdullah, yakni hamba Allah. Tapi siapakah namamu yang sebenarnya?”

Uwais kemudian berkata “Nama saya Uwais al-Qarni.”

Dalam pembicaraan mereka, diketahuilah bahwa ibu Uwais telah meninggal dunia.
Itulah sebabnya, dia baru dapat turut bersama rombongan kafilah dagang saat itu. Akhirnya, Khalifah Umar dan sayyidina Ali K.W. memohon agar Uwais berkenan mendoakan untuk mereka.

Uwais enggan dan dia berkata kepada khalifah,

“Sayalah yang harus meminta doa daripada kalian.”

Mendengar perkataan Uwais, Khalifah berkata,

“Kami datang ke sini untuk mohon doa dan istighfar daripada anda.”

Karena desakan kedua sahabat ini, Uwais al-Qarni akhirnya mengangkat kedua tangannya, berdoa dan membacakan istighfar.

Setelah itu Khalifah Umar R.A berjanji untuk menyumbangkan wang negara daripada Baitulmal kepada Uwais, untuk jaminan hidupnya. Segera sahaja Uwais menolak dengan halus dengan berkata,

“Hamba mohon supaya hari ini saja hamba diketahui orang. Untuk hari-hari selanjutnya, biarlah hamba yang fakir ini tidak diketahui orang lagi.”

Setelah kejadian itu, nama Uwais kembali tenggelam dan tidak terdengar beritanya.

Namun, ada seorang lelaki pernah bertemu dan dibantu oleh Uwais. Ketika itu kami berada di atas kapal menuju ke tanah Arab bersama para pedagang. Tanpa disangka-sangka angin taufan berhembus dengan kencang.

Akibatnya, hempasan ombak menghentam kapal kami sehingga air laut masuk ke dalam kapal dan menyebabkan kapal semakin berat. Pada saat itu, kami melihat seorang laki-laki yang mengenakan selimut berbulu di pojok kapal yang kami tumpangi, lalu kami memanggilnya.

Lelaki itu keluar daripada kapal dan melakukan solat di atas air. Betapa terkejutnya kami melihat kejadian itu.

“Wahai waliyullah, tolonglah kami!” Namun, lelaki itu tidak menoleh. Lalu kami berseru lagi,

“Demi Zat yang telah memberimu kekuatan beribadah, tolonglah kami!”

Lelaki itu menoleh kepada kami dan berkata,

“Apa yang terjadi?”

“Tidakkah engkau melihat bahawa kapal dihembus angin dan dihentam ombak?” Tanya kami.

“Dekatkanlah diri kalian pada Allah!” Katanya.

“Kami telah melakukannya.”

“Keluarlah kalian daripada kapal dengan membaca Bismillahirrahmaanirrahiim!”

Kami pun keluar daripada kapal satu persatu dan berkumpul. Pada saat itu jumlah kami lima ratus lebih. Sungguh ajaib, kami semua tidak tenggelam, sedangkan perahu kami serta isinya tenggelam ke dasar laut.

Lalu orang itu berkata pada kami,

“Tidak apalah harta kalian menjadi korban, asalkan kalian semua selamat.”

“Demi Allah, kami ingin tahu, siapakah nama Tuan?” Tanya kami.

“Uwais al-Qorni.” Jawabnya dengan singkat.

Kemudian kami berkata lagi kepadanya,

“Sesungguhnya harta yang ada di kapal tersebut adalah milik orang-orang fakir di Madinah yang dikirim oleh orang Mesir.”

“Jika Allah mengembalikan harta kalian. Apakah kalian akan membahagi-bahagikannya kepada orang-orang fakir di Madinah?” Tanyanya.

“Ya!” Jawab kami.

Orang itu pun melaksanakan solat dua rakaat di atas air, lalu berdoa. Setelah Uwais al-Qarni mengucap salam, tiba-tiba kapal itu muncul ke permukaan air, lalu kami menumpanginya dan meneruskan perjalanan. Setibanya di Madinah, kami membahagi-bahagikan seluruh harta kepada orang-orang fakir di Madinah, tiada satu pun yang tertinggal.

Beberapa waktu kemudian, tersiar khabar Uwais al-Qarni telah pulang ke rahmatullah. Anehnya, pada saat dia akan dimandikan tiba-tiba sudah banyak orang yang berebut untuk memandikannya. Dan ketika dibawa ke tempat pembaringan untuk dikafan, di sana sudah ada orang-orang yang menunggu untuk mengkafankannya.

Demikian juga ketika orang pergi hendak menggali kuburnya. Di sana ternyata sudah ada orang-orang yang menggali kuburnya hingga selesai. Ketika usungan dibawa menuju ke perkuburan, luar biasa banyaknya orang yang berebutan untuk mengusungnya.

Syeikh Abdullah bin Salamah menjelaskan,

“Ketika aku ikut menguruskan jenazahnya hingga aku pulang daripada menghantarkan jenazahnya, lalu aku ingin untuk kembali ke kubur tersebut untuk memberi tanda pada kuburnya, akan tetapi sudah tak terlihat ada bekas di kuburnya.”

(Syeikh Abdullah bin Salamah adalah orang yang pernah ikut berperang bersama Uwais al-Qarni pada masa pemerintahan sayyidina Umar R.A.)

Pemergian Uwais al-Qarni telah menggemparkan masyarakat kota Yaman. Banyak terjadi hal-hal yang amat menghairankan. Sedemikian banyaknya orang yang tidak kenal datang untuk mengurus jenazah dan pengebumiannya, padahal Uwais adalah seorang fakir yang tidak dihiraukan orang.

Sejak dia dimandikan hingga jenazahnya hendak diturunkan ke dalam kubur, di situ selalu ada orang-orang yang telah siap melaksanakannya terlebih dahulu. Penduduk kota Yaman tercengang.

Mereka saling bertanya-tanya “Siapakah sebenarnya engkau wahai Uwais al-Qarni? Bukankah Uwais yang kita kenal, hanyalah seorang fakir yang tidak memiliki apa-apa? Kerjanya hanyalah sebagai penggembala?”

“Namun, ketika hari wafatmu, engkau telah menggemparkan penduduk Yaman dengan hadirnya manusia-manusia asing yang tidak pernah kami kenali. Mereka datang dalam jumlah sedemikian banyaknya.”

Agaknya mereka adalah para malaikat yang diturunkan ke bumi, hanya untuk mengurus jenazah dan pemakamannya. Baru saat itulah penduduk Yaman mengetahuinya siapa Uwais al-Qarni.

“Dialah Uwais al-Qarni, tidak terkenal di bumi tapi sangat terkenal di langit.”

Sumber: iluvislam.com